DISABILITAS/DIFABEL, “APA dan SIAPA?”

DISABILITAS/DIFABEL, “APA dan SIAPA?”

 

Kata “disabilitas” mungkin masih cukup asing di telinga kita. Padahal mereka sering kita temui di lingkungan sekitar. Yaaa, mungkin kita menemuinya juga secara tak sengaja dan biasa kita menyebutnya  “orang cacat” atau “orang tidak normal.”

Menurut UU No. 8 Tahun 2016, penyandang disabilitas adalah setiap orang yang mengalami keterbatasan fisik, intelektual, mental, dan/atau sensorik dalam jangka waktu lama yang dalam berinteraksi dengan lingkungan dapat mengalami hambatan dan kesulitan untuk berpartisipasi secara penuh dan efektif dengan warga negara lainnya berdasarkan kesamaan hak.

Lalu, siapa saja yang termasuk disabilitas?

Masih menurut sumber yang sama nih, ragam penyandang disabilitas yaitu: penyandang disabilitas fisik, penyandang disabilitas intelektual, penyandang disabilitas mental, dan/atau penyandang disabilitas sensorik. Penyandang disabilitas sensorik dapat dibagi lagi ragamnya diantaranya disabilitas sensorik netra dan disabilitas sensorik Rungu Wicara. Kondisi kedisabilitasan ini dapat dialami baik secara tunggal, ganda, ataupun multi dalam jangka waktu yang tidak bisa diprediksi.

Berdasarkan data Survei Sosial-Ekonomi Nasional (Susenas) 2019, jumlah penyandang disabilitas di Indonesia sebesar 9,7 persen dari jumlah penduduk, atau sekitar 26 juta orang. Adapun, dalam artikel yang ditulis di https://kemensos.go.id/kemensos-dorong-aksesibilitas-informasi-ramah-penyandang-disabilitas, berdasarkan data berjalan 2020 dari Biro Pusat Statistik (BPS), jumlah penyandang disabilitas di Indonesia mencapai 22,5 juta atau sekitar lima persen dari total penduduk Indonesia. Dinas Sosial Kota Surabaya mengungkapkan data terbaru jika jumlah penyandang disabilitas di Kota Surabaya selama tiga tahun terakhir mengalami kenaikan. Di tahun 2020 jumlah penyandang disabilitas mencapai 9.852 orang.

Namun demikian penyebutan disabilitas sering kali tak relevan lagi saat ini.

Mengapa?

Perkembangan teknologi masa kini membuat hambatan-hambatan itu perlahan berkurang. Dulu, tunanetra yang tidak bisa menggunakan HP sekarang dengan HP dan laptop lah mereka bisa berbuat lebih banyak. Teman-teman bisu/Tuli misalnya, dengan adanya aplikasi foice to text sekarang mereka bisa berkomunikasi lebih mudah dengan teman-teman non disabilitas.

Untuk itu, saya saat ini lebih biasa menyebut mereka dengan difabel.

*apa lagi itu?*

Difabel adalah orang dengan kemampuan yang berbeda. Betul bukan? Setiap orang memiliki kemampuan yang berbeda. Pun demikian dengan mereka yang disebut disabilitas tadi. Untuk menyelesaikan target yang sama dengan orang non disabilitas seperti bekerja, kuliah, dll dll, mereka mempunyai kemampuan yang berbeda pun juga caranya.

Jadiii,

Mari kita dukung mereka untuk mempunyai kesempatan yang sama berkontribusi positif bagi lingkungan sekitarnya.

Salam inklusi!!!

#InklusiDariDiriSendiri

 

Refrensi:

Undang-Undang No. 8 Tahun 2016 Tentang Penyandang Disabilitas