Bekerja Dengan Disabilitas Netra? Siapa Takuuuut!!!

Cover Buku "Buku Saku Enjoy Membangun Hubungan Kerja dengan Pegawai Disabilitas Netra" Dengan logo Kementerian Desa PDTT dan logo inklusi.

 

Bekerja Dengan Disabilitas Netra? Siapa Takuuuut!!!

 

Bekerja di tempat yang nyaman tentu menjadi idaman semua orang. Nyaman tak berarti dengan pemandangan yang bagus dan ruangan yang mewah, namun nyaman dalam artian bekerja dengan suasana yang guyub, interaksi antar pegawai yang positif, serta kolaborasi antar pegawai yang selalu meningkat untuk bersama-sama meningkatkan kinerja masing-masing. Terlebih jika terdapat pegawai dengan disabilitas, saling memahami kondisi antar pegawai menjadi amat penting.

Stigma negatif masyarakat kepada orang dengan disabilitas di Indonesia menjadi salah satu penghambat mereka untuk berkontribusi aktif dalam berbagai aktivitas baik itu aktivitas bermasyarakat sehari-hari maupun dalam bekerja. Orang dengan disabilitas netra misalnya, tidak bisa apa-apa, hanya bekerja sebagai pemijat, serta merepotkan menjadi stigma yang seringkali muncul di dalam kehidupan bermasyarakat. Stigma ini menyebabkan orang dengan disabilitas netra harus bersosialisasi dengan baik agar dapat mengakses pendidikan dan pekerjaan.

Lalu bagaimana sebetulnya kondisi saat ini? masih kah disabilitas netra sangat terbatas dalam bekerja? Dengan membaca buku ini semoga sobat inklusi semua dapat menambah ilmu baru dan stigma terkait disabilitas netra menjadi lebih baik.

Buku ini juga dilengkapi dengan beberapa video yang dapat diakses melalui channel youtube yang juga ditampilkan di website ini.

Silahkan pula untuk menggunakan kolom komentar sebagai tempat bertanya dan berdiskusi dengan baik dan sopan. 🙂

Harapan besar semoga buku ini mendapat masukan dari kamu semua sehingga buku ini dapat diperbaiki secara berkala.

Buat kamu yang ingin download bukunya silahkan kunjungi link berikut:

Buku Saku Enjoy Membangun Hubungan Kerja Dengan Pegawai Disabilitas Netra

Selamat membaca dan jangan lupa membagikan postingan ini jika dirasa bermanfaat!!!

Salam inklusi!!!

#InklusiDariDiriSendiri

 

Buku Saku, Enjoy Membangun Hubungan Kerja Dengan Pegawai Disabilitas Netra_Alfian Andhika Yudhistira

 

INKLUSIF TAK SEKEDAR di MULUT dan JEMPOL

INKLUSIF TAK SEKEDAR di MULUT dan JEMPOL

 

Singkat cerita, kabarnya Indonesia yang inklusif saat ini sudah seringkali menjadi jargon dimana-mana. Mulai dari organisasi/komunitas, pevent-event, perusahaan, universitas, dan lain sebagainya. bahkan tak jarang postingan-postingan Sebagian dari kita di sosial media menggunakan hashtag inklusif. Tentu saja ini adalah kemajuan dalam mensosialisasikan inklusifitas kepada masyarakat.

Namun demikian tanpa kita sadari perilaku Sebagian dari kita masih belum mencerminkan itu semua. Dalam sebuah pelatian atau diklat dan sejenisnya misalnya, sering kali keberadaan difabel masih diberikan perhatian yang khusus. Saat ada sebuah aktifitas, biasanya difabel diajak untuk meninggalkan ruangan atau sedikit bergeser dan mempersilahkan si difabel untuk beristirahat. Tentunya hal ini dengan dalih aktifitas yang tidak aksesible, instruktur yang belum berpengalaman, dll dll. Atau, jika ada difabel lebih dari 1 orang, mereka dikumpulkan menjadi satu tentunya pula dengan dalih agar mudah ini itu dan lain sebagainya.

Contoh kecil yang menunjukkan bahwa kita masih memperlakukan difabel dengan eksklusif ditengah-tengah jargon inklusif yang kita buat sendiri.

Inklusif, bukan hanya saat ada difabel atau masyarakat dengan berbeda kemampuan lainnya saja. Namun, inklusif perlu dibuktikan dengan bagaimana mereka dilibatkan atau terlibat dalam sebuah interaksi antar masyarakat yang tidak lagi memandang difabel, ras, warna kulit, jenis kelamin, dan perbedaan-perbedaan yang lain.

Menjadi refleksi bagi kita, bahwa inklusif tak sekedar di mulut atau di jempol, melainkan bagaimana kita memperlakukan dan memberikan kesempatan yang sama kepada setiap orang untuk melakukan interaksi Bersama-sama dengan tujuan yang sama, meski terkadang masing-masing punya cara yang berbeda. Namun itu semua bukan alasan untuk kita meng-eksklusifkan satu dari mereka.

Salam inklusi!!!

#InklusiDariDiriSendiri

TUT-TUT -TUT, PERGI ke MASJID

TUT-TUT -TUT, PERGI ke MASJID

 

Aku ingat sekali. Hari itu hari Jum’at, sekitar 7 tahun yang lalu. Dari sebuah rumah kami pergi ke Masjid untuk shalat Jum’at. Jangan salah, ini komposisi yang agak ajaib. 1 orang non difabel  netra alias biasa kami menyebutnya orang awas harus mendampingi 4 orang difabel netra yang bandelnya ampun-ampunan. Pastinya termasuk si penulis ini. Hahaha.

Kami memang suka bergurau. Kadang-kadang di tempat umum pun kami amat jail terutama jail pada orang-orang yang melihat kami dengan kasihan. Eh, tidak termasuk yang awas tadi ya yang kasian.

Kami berjalan seperti anak kecil yang sedang main kereta-keretaan. Setelah sampai di depan gerbang Masjid tiba-tiba kami mendengar si Bapak penjaga parkiran menggerutu, “lha ini mau shalat kok malah kereta-keretaan.” Secara otomatis si P teman kami paling belakang menoleh dan tertawa keras, karena kami berjalan cukup santai kami dengar lagi si Bapak menyebut nama Tuhan, “astaghfirllah Hal’adzim” berulang kali. Hal ini membuat kami serempak tertawa kecil sambal melanjutkan kereta-keretaan kami mencari tempat kosong untuk shalat.

Hei, kondisi kami yang difabel tak lantas membuat kami meratap-ratap kasihan. Sama seperti kalian semua. Kadang kami juga jail, sok tahu, bandel, seperti cerita-cerita selanjutnya.

😊

Salam Inklusi!!!

#InklusiDariDiriSendiri