TUT-TUT -TUT, PERGI ke MASJID

TUT-TUT -TUT, PERGI ke MASJID

 

Aku ingat sekali. Hari itu hari Jum’at, sekitar 7 tahun yang lalu. Dari sebuah rumah kami pergi ke Masjid untuk shalat Jum’at. Jangan salah, ini komposisi yang agak ajaib. 1 orang non difabel  netra alias biasa kami menyebutnya orang awas harus mendampingi 4 orang difabel netra yang bandelnya ampun-ampunan. Pastinya termasuk si penulis ini. Hahaha.

Kami memang suka bergurau. Kadang-kadang di tempat umum pun kami amat jail terutama jail pada orang-orang yang melihat kami dengan kasihan. Eh, tidak termasuk yang awas tadi ya yang kasian.

Kami berjalan seperti anak kecil yang sedang main kereta-keretaan. Setelah sampai di depan gerbang Masjid tiba-tiba kami mendengar si Bapak penjaga parkiran menggerutu, “lha ini mau shalat kok malah kereta-keretaan.” Secara otomatis si P teman kami paling belakang menoleh dan tertawa keras, karena kami berjalan cukup santai kami dengar lagi si Bapak menyebut nama Tuhan, “astaghfirllah Hal’adzim” berulang kali. Hal ini membuat kami serempak tertawa kecil sambal melanjutkan kereta-keretaan kami mencari tempat kosong untuk shalat.

Hei, kondisi kami yang difabel tak lantas membuat kami meratap-ratap kasihan. Sama seperti kalian semua. Kadang kami juga jail, sok tahu, bandel, seperti cerita-cerita selanjutnya.

😊

Salam Inklusi!!!

#InklusiDariDiriSendiri