INKLUSIF TAK SEKEDAR di MULUT dan JEMPOL

INKLUSIF TAK SEKEDAR di MULUT dan JEMPOL

 

Singkat cerita, kabarnya Indonesia yang inklusif saat ini sudah seringkali menjadi jargon dimana-mana. Mulai dari organisasi/komunitas, pevent-event, perusahaan, universitas, dan lain sebagainya. bahkan tak jarang postingan-postingan Sebagian dari kita di sosial media menggunakan hashtag inklusif. Tentu saja ini adalah kemajuan dalam mensosialisasikan inklusifitas kepada masyarakat.

Namun demikian tanpa kita sadari perilaku Sebagian dari kita masih belum mencerminkan itu semua. Dalam sebuah pelatian atau diklat dan sejenisnya misalnya, sering kali keberadaan difabel masih diberikan perhatian yang khusus. Saat ada sebuah aktifitas, biasanya difabel diajak untuk meninggalkan ruangan atau sedikit bergeser dan mempersilahkan si difabel untuk beristirahat. Tentunya hal ini dengan dalih aktifitas yang tidak aksesible, instruktur yang belum berpengalaman, dll dll. Atau, jika ada difabel lebih dari 1 orang, mereka dikumpulkan menjadi satu tentunya pula dengan dalih agar mudah ini itu dan lain sebagainya.

Contoh kecil yang menunjukkan bahwa kita masih memperlakukan difabel dengan eksklusif ditengah-tengah jargon inklusif yang kita buat sendiri.

Inklusif, bukan hanya saat ada difabel atau masyarakat dengan berbeda kemampuan lainnya saja. Namun, inklusif perlu dibuktikan dengan bagaimana mereka dilibatkan atau terlibat dalam sebuah interaksi antar masyarakat yang tidak lagi memandang difabel, ras, warna kulit, jenis kelamin, dan perbedaan-perbedaan yang lain.

Menjadi refleksi bagi kita, bahwa inklusif tak sekedar di mulut atau di jempol, melainkan bagaimana kita memperlakukan dan memberikan kesempatan yang sama kepada setiap orang untuk melakukan interaksi Bersama-sama dengan tujuan yang sama, meski terkadang masing-masing punya cara yang berbeda. Namun itu semua bukan alasan untuk kita meng-eksklusifkan satu dari mereka.

Salam inklusi!!!

#InklusiDariDiriSendiri

TUT-TUT -TUT, PERGI ke MASJID

TUT-TUT -TUT, PERGI ke MASJID

 

Aku ingat sekali. Hari itu hari Jum’at, sekitar 7 tahun yang lalu. Dari sebuah rumah kami pergi ke Masjid untuk shalat Jum’at. Jangan salah, ini komposisi yang agak ajaib. 1 orang non difabel  netra alias biasa kami menyebutnya orang awas harus mendampingi 4 orang difabel netra yang bandelnya ampun-ampunan. Pastinya termasuk si penulis ini. Hahaha.

Kami memang suka bergurau. Kadang-kadang di tempat umum pun kami amat jail terutama jail pada orang-orang yang melihat kami dengan kasihan. Eh, tidak termasuk yang awas tadi ya yang kasian.

Kami berjalan seperti anak kecil yang sedang main kereta-keretaan. Setelah sampai di depan gerbang Masjid tiba-tiba kami mendengar si Bapak penjaga parkiran menggerutu, “lha ini mau shalat kok malah kereta-keretaan.” Secara otomatis si P teman kami paling belakang menoleh dan tertawa keras, karena kami berjalan cukup santai kami dengar lagi si Bapak menyebut nama Tuhan, “astaghfirllah Hal’adzim” berulang kali. Hal ini membuat kami serempak tertawa kecil sambal melanjutkan kereta-keretaan kami mencari tempat kosong untuk shalat.

Hei, kondisi kami yang difabel tak lantas membuat kami meratap-ratap kasihan. Sama seperti kalian semua. Kadang kami juga jail, sok tahu, bandel, seperti cerita-cerita selanjutnya.

😊

Salam Inklusi!!!

#InklusiDariDiriSendiri

DISABILITAS/DIFABEL, “APA dan SIAPA?”

DISABILITAS/DIFABEL, “APA dan SIAPA?”

 

Kata “disabilitas” mungkin masih cukup asing di telinga kita. Padahal mereka sering kita temui di lingkungan sekitar. Yaaa, mungkin kita menemuinya juga secara tak sengaja dan biasa kita menyebutnya  “orang cacat” atau “orang tidak normal.”

Menurut UU No. 8 Tahun 2016, penyandang disabilitas adalah setiap orang yang mengalami keterbatasan fisik, intelektual, mental, dan/atau sensorik dalam jangka waktu lama yang dalam berinteraksi dengan lingkungan dapat mengalami hambatan dan kesulitan untuk berpartisipasi secara penuh dan efektif dengan warga negara lainnya berdasarkan kesamaan hak.

Lalu, siapa saja yang termasuk disabilitas?

Masih menurut sumber yang sama nih, ragam penyandang disabilitas yaitu: penyandang disabilitas fisik, penyandang disabilitas intelektual, penyandang disabilitas mental, dan/atau penyandang disabilitas sensorik. Penyandang disabilitas sensorik dapat dibagi lagi ragamnya diantaranya disabilitas sensorik netra dan disabilitas sensorik Rungu Wicara. Kondisi kedisabilitasan ini dapat dialami baik secara tunggal, ganda, ataupun multi dalam jangka waktu yang tidak bisa diprediksi.

Berdasarkan data Survei Sosial-Ekonomi Nasional (Susenas) 2019, jumlah penyandang disabilitas di Indonesia sebesar 9,7 persen dari jumlah penduduk, atau sekitar 26 juta orang. Adapun, dalam artikel yang ditulis di https://kemensos.go.id/kemensos-dorong-aksesibilitas-informasi-ramah-penyandang-disabilitas, berdasarkan data berjalan 2020 dari Biro Pusat Statistik (BPS), jumlah penyandang disabilitas di Indonesia mencapai 22,5 juta atau sekitar lima persen dari total penduduk Indonesia. Dinas Sosial Kota Surabaya mengungkapkan data terbaru jika jumlah penyandang disabilitas di Kota Surabaya selama tiga tahun terakhir mengalami kenaikan. Di tahun 2020 jumlah penyandang disabilitas mencapai 9.852 orang.

Namun demikian penyebutan disabilitas sering kali tak relevan lagi saat ini.

Mengapa?

Perkembangan teknologi masa kini membuat hambatan-hambatan itu perlahan berkurang. Dulu, tunanetra yang tidak bisa menggunakan HP sekarang dengan HP dan laptop lah mereka bisa berbuat lebih banyak. Teman-teman bisu/Tuli misalnya, dengan adanya aplikasi foice to text sekarang mereka bisa berkomunikasi lebih mudah dengan teman-teman non disabilitas.

Untuk itu, saya saat ini lebih biasa menyebut mereka dengan difabel.

*apa lagi itu?*

Difabel adalah orang dengan kemampuan yang berbeda. Betul bukan? Setiap orang memiliki kemampuan yang berbeda. Pun demikian dengan mereka yang disebut disabilitas tadi. Untuk menyelesaikan target yang sama dengan orang non disabilitas seperti bekerja, kuliah, dll dll, mereka mempunyai kemampuan yang berbeda pun juga caranya.

Jadiii,

Mari kita dukung mereka untuk mempunyai kesempatan yang sama berkontribusi positif bagi lingkungan sekitarnya.

Salam inklusi!!!

#InklusiDariDiriSendiri

 

Refrensi:

Undang-Undang No. 8 Tahun 2016 Tentang Penyandang Disabilitas